Tanah airku Indonesia
Negeri elok amat kucinta
Tanah tumpah darahku yang mulia
Yang kupuja sepanjang masa
……..
Siapa yang tak kenal lirik lagu di atas, sepenggal lirik lagu Rayuan Pulau Kelapa yang diciptakan oleh Ismail Marzuki. Banyak lagu yang diciptakan dan digubah oleh pemuda asal Betawi ini. Sebut saja Indonesia Tanah Pusaka, Halo Halo Bandung, Gugur Bunga, yang merupakan lagu-lagu bertemakan perjuangan, atau lagu-lagu populer yang bernafaskan cinta seperti Aryati, Selendang Sutra, Juwita Malam, Sepasang Mata Bola, Kopral Jono Sabda Alam, dll.
Ismail Marzuki adalah sosok seniman musik Indonesia di era penjajahan Belanda, Jepang dan Revolusi. Pemuda yang dibesarkan dari keluarga menengah ke atas ini pernah menempuh pendidikan HIS (setingkat sekolah dasar kaum bangsawan), yang kemudian melanjutkan ke jenjang pendidikan MULO (setingkat sekolah menengah pertama khusus diperuntukkan bagi orang Indonesia golongan atas dan orang Eropa). Setelah itu Ismail Marzuki tidak melanjutkan ke jenjang sekolah formal yang lebih tinggi lagi, dia lebih memilih jalur musik dalam melanjutkan hidupnya. Pengetahuan musik yang didapatnya pun berdasarkan otodidak dari modal membaca buku-buku dan menimba ilmu pada musisi-musisi Eropa saat itu, khususnya Belanda, mengingat beliau fasih dalam bahasa Inggris dan Belanda.
Berbagai pekerjaan penah dilakoninya selepas pendidikan MULO, diantaranya menjadi penjaga toko, menjadi kasir toko, dan sebagai penjual piringan hitam di sebuah toko musik di Batavia. Dari menjual piringan hitam inilah Marzuki mengenal berbagai pelanggan yang umumnya memiliki pengetahuan musik. Dari sini pulalah Marzuki meniti karier sebagai pemain musik sekaligus penggubah lagu. Beliau bergabung di berbagai komunitas-komunitas musik saat itu, salah satunya Lief Java, dan sering muncul di berbagai radio-radio di Batavia, Bandung, Surabaya, dll.
Lantas apa maksud Ismail Marzuki bukan Ludwig van Beethoven atau Sheila on Seven??
Selain Beethoven sebagai komponis di abad 18-19an dan Marzuki sendiri dari era abad 20-an. Hal mendasar yang membedakannya adalah Ismail Marzuki buta not balok atau Blinde Muizen (menurut sindiran orang Belanda). Dengan latar belakang Marzuki yang cukup mapan, beliau seharusnya bisa melanjutkan sekolah musik ke uar negeri guna memperdalam pengetahuan musiknya, mengingat hampir 100% karya-karya Ismail Marzuki berdasarkan gramatika musik Barat. Maka tak heran karya-karyanya hanya sebatas musik hiburan, dan belum bisa digolongkan sebagai musik seni. Ketika pada tahun 1931-1958 (masa aktif Marzuki berkarya) dunia barat disibukkan dengan kompleksitas musik ala Arnold Schönberg dkk dengan elemen polimetrik, poliritmik, teknik dodekafon serta serialismenya, Marzuki malah berkutat dalam musik populernya yang mudah dicerna, sehingga tidak membutuhkan banyak usaha dan daya pikir. Memang pada saat itu Indonesia sesang disibukkan dengan pembebasan belenggu penjajah, sehingga mungkin tak ada waktu bagi para seniman musik jaman itu untuk memikirkan kepribadian khas seni musik Indonesia agar tidak terpengaruh gramatika musik barat. Selain itu, musik hiburan mungkin satu-satunya obat pelepas penat para pejuang, karena lagu-lagunya yang mudah dipahami serta cepat digemari.
Konon Ismail Marzuki mampu menciptakan sebuah lagu dalam tempo beberapa menit. Sedangkan Conlon Nancarrow (komponis avantgarde Amerika) menyelesaikan karyanya “Player Piano” dengan menghabiskan waktu 1 bulan untuk 1 detik suara yang dikeluarkan. Walaupun tidak bisa dibanding-bandingkan (karena komposisi “Player Piano” memang karya piano konstruktif, yaitu membuat piano yang “tidak lazim”), namun kesadaran untuk tidak cepat puas terhadap suatu karya dan sikap kritis terhadap hasil karyanya sendiri adalah hal positif yang harus dimiliki seorang komponis sejati.
Indonesia sebenarnya memiliki bermacam budaya dan tidak perlu mengimpor “budaya luar”. Buktinya banyak teman-teman kita yang konsen terhadap musik tradisi (Sunda, Jawa, Bali, dll) acapkali diundang ke luar negeri untuk mementaskan karya-karya musiknya. Sebut saja salah satunya Kang Nano .S dkk yang justru mengharumkan nama bangsa di mata dunia dan layak disebut Komponis Indonesia, sementara Ismail Marzuki dkk belum pernah diundang untuk tampil pentas ke ke luar negeri.
Ismail Marzuki bukan juga Sheila on Seven, karena di sini jelas lirik yang diusung Marzuki tidak melulu tentang cinta. Banyak lirik lagu Marzuki mengangkat tema-tema mars yang dapat membakar semangat juang para pejuang dan sebagai pelipur lara di kala letih berperang.
Jika Sheila on Seven sering mendapatkan piala penghargaan sebagai pelaku industri musik Indonesia dari berbagai kalangan, Ismail Marzuki juga pernah mendapatkan beberapa piagam penghargaan, diantaranya dari Presiden RI pertama, Soekarno, yakni Piagam Widjajakusuma sebagai Pahlawan Budaya, dan penghargaan Satyalencana Kebudayaan I. Selain itu baru-baru ini, tepatnya di tahun 2004 Presiden Susilo Bambang Yodhoyono juga memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Ismail Marzuki.
Sehebat apapun kritikan kepada Ismail Marzuki, namun tetap kita harus menjunjung tinggi bahwa Ismail Marzuki adalah salah satu orang Indonesia yang turut aktif berjuang bagi kemerdekaan bangsa dan negerinya melalui jalur musik. Karena memang terbukti karya-karya seninya yang disamping bisa menghibur, juga berfungsi sebagai senjata ampuh mengusir dan melawan segala bentuk penjajahan dan penindasan di muka bumi Indonesia.
Dan Ismail Marzuki tetap kita kenang sebagai pencipta lagu, pengaranseman, penggubah, pemimpin orkes dan Pahlawan Nasional. (diec)


